KEUKEN is a one-day food festival which addresses the issues of the utilizations of city public spaces through the wisdom of the street-inspired culture. KEUKEN is requestioning the role of the city and its honest correlation to the context of the everyday life. KEUKEN gives you a lookout, to see the urban environment amid the pressure of modernity, to experience its ambiguous passion, its function, its appeal, by way of celebrating the most exciting practice of everyday life, eating.
The synthesis of Built environment issues and the pleasure of eating that it calls --in the relative under developing circumstances—is apparently designed to construct an atmosphere of continual exploration, leisure, and stimulating ambience in searching of new values of the better urban living.
KEUKEN reveals the lost gap that lies between these two interesting by marrying the desire of a daily basis appetite and its spatial needs at the same time. KEUKEN roams the possible landscape and reclaims particular public domains. KEUKEN is a festive approach on how we could all win back the civic assets in the first place— from what is now illegitimately owned by certain individuals--, and somehow turns it into an urban kitchen, the space where all the sort of tasty spices from various handpicked emerging chefs and food restaurants all over the town gather round so that everyone can cheers, and value both the space/the spices.
KEUKEN is ecstatic to encourage you to get to the bottom of our everyday life challenges, and exploring both the critical notions and range of practices come from its nature
KEUKEN #1: THE MAGNIFICENT COW BARN July 24th 2011. Cikapundung Timur Street, all day long. Reclaim your streets, and eat.
Dalam kejenuhan perkotaan dan monotoni kolektif yang sesak, usaha pemenangan ruang publik menjadi sebuah ide yang kemudian sering diusahakan banyak pihak. Keuken mengambil kesempatan pemanfaatan ruang bersama kota ini dengan kemudian menyandingkan komoditi dasar sebagai sumber festivity: makanan.
Pada perkembangan pemenuhan kebutuhan pangan manusia pula kami telah melihat segala komodifIkasi yang menyenangkan, dari bentuk fancy dining termahal hingga tumpengan paling sederhana. Pemenuhan lapar yang terbawa bersama menjadi sebuah perayaan tampak begitu menarik, hingga dalam banyak contoh kita bersedia membayar untuk terlibat dalam perayaan-perayaan yang mengenyangkan ini.
Kota Bandung, yang telah bergerak menuju beratus-ratus lapisan urban dan rural yang saling menumpuk dan berhimpit, pun masih harus memperjuangkan ruang-ruangnya sendiri. Sedang perayaan, lebih lagi dalam usaha pemenuhan perut, tidak pula asing di telinga warga kotanya- sehingga usaha Keuken dalam mengumpulkan seluruh pelaku beratus lapis kota tadi tentu bukan tanpa basis.
Keuken mencoba menjawab kembali usaha pengembalian ruang kota dalam bentuk keragaman pelakunya- saling merayakan sebuah kegiatan makan bersama. Diadakan setiap termin tiga bulan Keuken akan mengisi penuh venue dengan stand makanan dari banyak tenant undangan yang telah terkurasi sesuai dengan tema, serta berbagai sarana edukasi dan hiburan yang mencoba menarik seluruh lapisan pelaku kota, dalam satu tempat terbuka.
Impresi pengunjung akan terpancing dalam kolase perayaan alun-alun kota; selebrasi sepanjang jalanan kota yang menyembulkan kejutan hiburan tiap sudutnya. Mengambil tema spesifIk pengisi perut yang berbeda-beda tiap tiga bulannya, Keuken diharapkan dapat menjadi pelepas kepenatan, teriakan dan klakson dan debu kendaraan menjadi renyahnya pemenangan ruang publik kota dalam setiap gigitan makanan yang dirayakan bersama.














































